SEBUAH KESALAHAN DI BANGKU KULIAH

8 09 2009

Marquee Tag - http://www.marqueetextlive.com

<

WARNING
Bagi anda yang merasa jadi mahasiswa yang pintar saya sarankan tidak usah melanjutkan membaca tulisan ini.

Masih teringat dengan jelas ketika saya diterima menjadi salah satu mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri di Sumatera Selatan. Ketika itu hari pertama saya dan rekan-rekan mahasiwa yang lain di sambut di rektorat oleh Rektor, Dekan, Dosen Pengajar, dan Mahasiswa yang lain. Selama hampir 2 jam lebih kami mendapatkan ceramah yang sangat membosankan. Tapi dari sekian lama ceramah tersebut ada salah satu informasi yang sampai sekarang tidak akan pernah saya lupakan. Dikatakan bahwa ilmu yang akan kami dapatkan dari bangku kuliah hanya sekitar 25%, sedangkan sisahnya kami harus mencari sendiri.

Sempat bingung waktu itu karena kami baru menyandang predikat mahasiswa dan belum tahu seperti apa cara belajar di perguruan tinggi. Setelah beberapa minggu saya menjalankan kuliah saya baru tahu bagaimana cara belajar di perguruan tinggi. Waktupun berlalu, sayapun tumbuh menjadi mahasiswa yang sedang mencari jati diri. Semua mata kuliah wajib saya ikuti dan syukur alhamdulillah indeks prestasi saya tidak begitu buruk. Namun saya kembali teringat kalau 75% dari ilmu diperguruan tinggi harus saya cari sendiri. Akhirnya saya berfikir, darimana sisahnya harus saya cari.

Sayapun sering mendapat wejangan dari ayah saya, dia mengatakan jadi mahasiswa itu jangan Cuma belajar dan pulang kekostan. Oh…ternyata inilah mungkin maksudnya. Saya diarahkan untuk mengembangkan diri dengan mengikuti beberapa organisasi baik intern maupun ekstern. Pilihan saya jatuh pada organisasi ekstern terlebih dahulu. Alangkah terkejutnya saya ketika mengikuti basic traning sebuah organisasi mahasiswa tertua di Indonesia. Betapa sungguh berbeda pola pikir mereka. Dan setelah keluar dari basic traning tersebut sayapun mulai menjadi mahasiswa yang kritis dan membahas suatu masalah secara radikal. Sayapun mulai berani berbicara di depan umum. Sungguh luar biasa hasil yang saya dapatkan.

Akan tetapi suatu perbedaan mencolok antara saya dan rekan-rekan saya mulai terjadi. Mulai dari pola pikir, gaya bicara, dsb. Dulu awalnya saya ingin menjadi mahasiswa yang cepat tamat kulaih. Tapi saya berfikir untuk apa saya cepat tamat kuliah kalau ilmu yang saya dapatkan hanya 25%, artinya saya Cuma sarjana 25% kan. Namun saya sangat heran ketika rekan-rekan saya tidak menyadari hal ini. Yang mereka pikirkan hanya belajar, belajar, dan belajar. Itupun ujian kadang masih nyontek. Lalu saya berfikir siapa yang salah ? Ternyata setelah saya amati kesalahannya ada pada sistem.

Begini…Sistem belajar diperguruan tinggi membuat mahasiswa hanya belajar secara teori dan secara ideal. Artinya ketika faktor X terjadi banyak mahasiswa yang tidak tahu bagaimana mengatasinya. Ini disebabkan karena mereka sulit mengembangkan daya pikir mereka. Maklum sajalah setiap hari hanya dijejali dengan teori-teori. Sehingga ketika belajar banyaklah ngayalnya. La wong Cuma teori. Sedangkan fakta di lapangan teori-teori tersebut seringkali tidak sesuai. Harusnya kalau mereka kreatif mereka mampu mengatasi masalah tersebut. Akan tetapi jalan menuju mereka untuk kreatif sebut saja berorganisasi tidak pernah diarahkan. Maka jangan heran kalau kualitas sarjananya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Baru mau ada niat berorganisasi tapi Pak Dosen sudah mengeluarkan peringatan. Awas jangan sampai organisasi malah mengganggu kuliah. Pak Dosen gak sadar kalau pringatan ini dampaknya buruk sekali. Ketakutan mereka bisa menjadi kenyataan. Pelajari teori the secret of super life. Harusnya biarkan mereka bebas berorganisasi, malah saya setuju kalau ada mata kuliah yang menganjurkan kita untuk berorganisasi. Yakinlah kalau tidak ada organisasi yang menganjurkan kita untuk jadi mahasiswa abadi, malah di sana kita akan belajar memanagement waktu, keuangan, membuat program kerja, bekerjasama dengan team, dan itu langsung diimplementasikan sehingga ketika terjadi trouble mereka bisa belajar menganilisis dan memecahkannya bukan hanya berdasarkan teori tapi juga pengalaman. Dan inilah yang dibutuhkan ketika mereka sudah terjun ke masyarakat.

Mungkin tidak jarang seorang sarjana tidak mampu berbicara di depan umum. Padahal komunikasi sangat penting sekali. Orang akan menghargai kita kalau kita mampu berdiplomasi dengan baik, dan tidak jarang orang lebih gampang dapat pekerjaan karena cara diplomasi mereka yang baik sekali. Anda tahu di mana anda bisa belajar berdiplomasi, belajarlah di organisasi.

Ada sebuah pertanyaan yang harus Anda renungkan. Apakah dengan cara belajar, belajar, dan belajar dan mengharuskan anda cepat tamat kuliah bisa menjamin kesuksesan kita ? Saya rasa tidak, justru banyak orang yang tamat kuliahnya lama malah lebih sukses. Apa anda berpikir itu nasib, jawabannya bukan ! Itu sebuah pengorbanan. Namun bukan berarti anda harus tamat kuliah yang lama dan males-malesan.

Lantas kenapa mereka butuh waktu yang lama untuk menyelesaikan masa studynya. Sebagian besar bilang ada yang mereka cari. Lalu apa yang mereka cari ? Bisa jadi ilmu, pengalaman kerja, uang, ketrampilan, ada juga yang bilang calon istri, ataupun relasi yang mereka anggap bisa membantu mereka ketika tamat nanti. Orang-orang yang seperti inilah yang berpeluang besar untuk sukses. Mereka orang yang cerdas bukan orang yang pintar. Anda masih ingat salah satu kalimat dalam UUD 1945 yang berbunyi ” Mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanan ……..” bukan Mempintarkan kehidupan bangsa kan ? Negara ini butuh orang-orang yang cerdas bukan orang-orang yang pintar. Bagaimana menurut anda …???

Dari uraian singkatsaya di atas saya ambil kesimpulan bahwa sistem pendidikan di perguruan tinggi masih harus dibenahi. Kalau memang ingin menghasilkan sarjana yang sesuai dengan harapan maka anjurkan mahasiswa untuk mencari 75% sisa ilmu yang harus mereka cari mulai dengan cara organisasi, bedah buku, seminar, pelatihan, dsb. Bukan hanya belajar. Masih banyak yang harus mereka cari. Dan jangan lupa tolong difasilitasi dan dipermudah untuk mendapatkannya. Semoga tulisan ini bisa menyadarkan mahasiswa yang sok pintar dan dosen yang Cuma nyuruh belajar dan belajar..

Advertisement

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.